Selasa, 22 November 2011

REORGANISASI FUNDAMENTAL SISTEM PRODUKSI GLOBAL

REORGANISASI FUNDAMENTAL SISTEM PRODUKSI GLOBAL
Oleh: Bonnie Setiawan

Gambaran mengenai globalisasi produksi pada saat ini hampir-hampir tidak terbayangkan sebelumnya. Globalisasi produksi sekarang sangatlah kompleks dan saling terkait satu sama lain dalam produksi skala besar tetapi juga sangat terpecah-pecah (fragmented) dan tersebar luas dalam tingkatan global. Misalnya, sebuah perusahaan bernama Li&Fung dari Hongkong, mempunyai pelanggan dari jaringannya yang berjumlah 8,000 sampai 10,000 pemasok (suppliers) yang tersebar di lebih dari 40 negara. Li&Fung memenuhi pesanan pakaian dari peritel AS, dimana ini berarti kainnya ditenun di China, kancingnya berasal dari Korea Selatan, dan penjahitannya dikerjakan di Guatemala. Contoh lain yang bagus dari perusahaan dengan rantai pasokan global adalah Caterpillar Inc.  Pada tahun 2007, Caterpillar mengirimkan produknya kepada pelanggannya di hampir 200 negara, mengoperasikan pusat-pusat manufakturnya di 24 negara (98 lokasi), dan mempunyai pusat riset dan teknik disain di 9 negara (20 lokasi). Contoh terkemuka lainnya adalah iPod dari Apple, yang mengalihdayakan seluruh proses manufakturnya dari tiap-tiap 451 komponennya ke seluruh jaringan perusahaan-perusahaannya yang luas yang meliputi Amerika Utara dan Asia. Perusahaan-perusahaan jaringannya mencakup dari sejak perusahaan multinasional semacam Toshiba yang memproduksi hard-drive, sampai ke produsen-produsen kecil yang ada di negara-negara seperti China dan Filipina yang tenaga kerjanya membuat atau merakit komponen-komponen kecil tapi penting bagi produk finalnya. Contoh lain rantai pengetahuan dan ketrampilan global, adalah ketika analis sistem di Stockholm berinteraksi setiap harinya dengan pemrogram perangkat lunak (software) di India; atau tim litbang (R&D) bekerja dalam proyek pengembangan secara kolaboratif yang tersebar lintas AS, Jepang dan Swiss; atau manajer pabrik di Detroit harus tergantung pada pemasok bagian-bagian mobil dari China, Meksiko, Brazil dan Jerman. Jadi Globalisasi produksi saat ini merepresentasikan jaringan global yang kompleks dari unit-unit alihdaya, pusat-pusat manufaktur, pusat-pusat distribusi bagian-bagian (parts), pusat-pusat logistik, kantor-kantor pemasaran, dealer-dealer, dan lokasi-lokasi pelanggan yang kesemuanya tidaklah terbayangkan sebelumnya.[1]
Sejak tahun 1980an sebetulnya kita mulai melihat bahwa globalisasi sebenarnya mengacu kepada sebuah proses reorganisasi menyeluruh dari manufaktur, perdagangan dan jasa-jasanya di dalam sebuah sistem yang melintasi batas-batas global. Para aktornya tidak lagi perusahaan-perusahaan nasional, tetapi adalah para mega-korporasi yang berorientasi global, para korporasi transnasional (TNCs) yang mengorganisasikan keseluruhan produksi dan penjualannya dengan tujuan agar dapat beroperasi ke seluruh dunia. Mereka dapat tetap mempertahankan pusat-pusat keuntungan di negara asal mereka, tetapi mereka pada dasarnya mengejar pertumbuhan dan maksimalisasi keuntungan secara lintas perbatasan nasional serta dengan perspektif yang global.[2] Pada mulanya cara TNC bekerja adalah melalui perdagangan intra-firm (di-dalam perusahaan sendiri), yang sebagian besar  terdiri dari barang-barang setengah jadi dan komponen-komponen, yang kemudiannya diproses lebih lanjut setelah diimport dan kemudian dieksport kembali. Akibat dari ini adalah yang telah kita kenal sebagai relokasi dan integrasi proses produksi diantara berbagai negara.[3]
Tahap selanjutnya, adalah dengan terjadinya revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di tahun 1990an. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran paradigmatik baik dalam hal cakupan dan skala perusahaan-perusahaan bisnis. Hasilnya adalah perubahan-perubahan dalam keragaman dan kompleksitas dari hubungan-hubungan inter-firm (antar perusahaan) dan bukan intra-firm. Hubungan baru ini dirumuskan sebagai kegiatan-kegiatan ekonomi yang intensif pada inovasi (innovation-intensive economic activities). Titik utamanya kini adalah pergeseran utama dari hirarki korporat kepada aliansi antar-korporat.[4] Perkembangan ini memuncak pada apa yang disebut sebagai ‘paradigma tekno-ekonomi’ (techno-economic paradigm) yang baru, dimana beragam inovasi teknik, keorganisasian dan manajerial saling berpadu. Perubahan teknologi yang cepat bersaling-kait dengan rezim ketepatgunaan  (appropriability regime), yang pada akhirnya menyebabkan perusahaan-perusahaan pemimpin mempertahankan hambatan-hambatan teknologisnya secara oligopolistik atas klaster-klaster kegiatan-kegiatan industrial yang saling terkait yang berdasarkan atas ‘teknologi inti’ yang spesifik, serta melakukan kerjasama untuk ‘saling memproteksi teknologi ketepatgunaan’ tersebut (mutual protection of technological appropriability).[5]
Jenis aliansi kompetitif ini dinamakan 'Wintelisme' (yang mengacu pada singkatan dua perusahaan besar Windows-Intel), dimana dominasi perusahaan Microsoft lewat system operasi Windows dan dominasi perusahaan Intel atas mikroprosesor memperlihatkan pentingnya de facto standard pasar bagi komponen-komponen berteknologi tinggi. Berbeda dengan era elektronik sebelumnya, maka kini standard didisain bersifat ‘terbuka’ tetapi standard sesungguhnya adalah ‘terbuka-tapi-bermilik’  (open-but-owned). Dalam pengertian ini maka perusahaan-perusahaan saling bersaing untuk memperebutkan pasar lewat upaya mendapatkan kepemilikan standard teknik yang diakui oleh pasar. Semakin pentingnya standard dan disain arsitektural juga terkait dengan restrukturisasi korporat maupun bentuk industrial organisasi. Dengan demikian, sekarang perusahaan-perusahaan ber-merk atau pemimpin pasar menekankan pada kegiatan-kegiatan yang intensif-inovasi, dan memutus (delinking) kegiatan-kegiatan yang intensif-produksi. Proses pemutusan ini cenderung menyebabkan perusahaan-perusahaan yang memimpin pasar untuk mengalihdayakan (outsource) kapasitas produksinya kepada perusahaan-perusahaan manufaktur ‘turn-key’. Inilah yang disebut proses alihdaya produksi, dimana perusahaan pusat hanya berkonsentrasi pada inovasi dan menyerahkan produksinya kepada perusahaan-perusahaan alihdaya (outsourcing). [6]
Tahapan akhir dari proses industrial global ini dikenal sebagai Rantai Nilai Global (RNG) atau Global Value Chain (GVC) dan Rantai Pasokan Global (RPG) atau Global Supply Chain (GSC). Sebuah rantai nilai menjelaskan keseluruhan cakupan kegiatan yang dengannya barang dan jasa beredar dari sejak konsepsinya sampai kepada distribusinya dan seterusnya. Ini termasuk beberapa kegiatan seperti disain, produksi, pemasaran, distribusi dan dukungan sampai ke konsumen akhir. Semua kegiatan ini dapat dilakukan di dalam sebuah perusahaan tunggal atau dibagi kepada beberapa perusahaan yang berbeda-beda; mereka dapat pula dilakukan dalam lokasi geografis yang tunggal atau disebar ke wilayah-wilayah lain yang lebih luas. Rantai nilai global (RNG) karenanya adalah rantai kegiatan yang dibagi kepada berbagai-bagai perusahaan dalam lokasi-lokasi geografis yang berbeda-beda. RNG mencakup rentang penuh kegiatan-kegiatan produksi yang saling berkaitan yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan di berbagai lokasi geografis untuk menghasilkan produk atau jasa dari sejak konsepsinya sampai produksi komplit dan penyerahannya kepada konsumen akhir. Sementara itu Rantai Pasokan Global (RNG) didefinisikan sebagai arus material-material dan produk-produk melalui proses pembelanjaan, produksi, pergudangan, distribusi dan pembuangan. [7] Disini dipakai istilah rantai pasokan untuk mencakup baik RNG maupun RPG.
Dalam akhir tahun 1990an dan awal 2000an model rantai pasokan telah menjadi arus utama dari sistem industrial. Hal ini melahirkan metode baru bernama kontrak internasional (international contracting). Kontrak-kontrak ini mengambil bentuk sebagai lisensi, waralaba, proyek-proyek  turn-key, dan subkontrak. Perusahaan-perusahaan yang melakukan hal tersebut dinamakan sebagai kontraktor internasional (International Contractors/ INC). Istilah INC sebenarnya bisa dikategorikan juga sebagai perusahaan-perusahaan multinasional (Multinational Enterprises/MNE) atau juga disebut TNCs, dan juga merujuk pada perusahaan-perusahaan kecil yang tidak sepenuhnya keluar batas negeri, tetapi hanya dalam bentuk eksportir atau kontraktor yang menjual jasa-jasa khusus semacam pemilikan teknologi (proprietary technology) atau keahlian manajemen.[8]
Dengan demikian reorganisasi produksi secara global menciptakan pembagian kerja baru lagi, yang memadukan sejumlah besar kekuatan-kekuatan kerja yang beragam dan terpisah secara ruang, yang menjalankan tugas-tugas yang terbagi-bagi secara spesifik dan yang terkait dengan proses yang lebih besar melalui berbagai bentuk organisasi sosial – mulai dari kontrol birokratis perusahaan-perusahaan multinasional, pertukaran-pertukaran pasar, jaringan sosial perusahaan-perusahaan subkontrak, serta jaring rumit keuangan – yang memfasilitasi arus kompleks dari barang-barang, uang dan informasi.[9] Kini reorganisasi dan restrukturisasi ini telah merubah istilah-istilah lama dan memotong lintasan batas-batas antara kategori yang berbeda-beda dari produksi barang-barang dan jasa atau perdagangan dan investasi ke dalam satu rantai produksi global yang terkonsolidasi.  Kini produksi barang-barang dapat saja dikategorikan sebagai jasa-jasa, begitupun sebaliknya; demikian pula investasi dapat dikatakan sebagai perdagangan, dan sebaliknya. Karena inilah maka rantai pasokan global telah benar-benar merubah dunia industrial.

***



[1] Gupta et.al. Op.cit., hlm. 9, 16-17, 22; Marcus Taylor (ed.), Global Economy Contested: Power and Conflict Across the International Division of Labour, Routledge Taylor and Francis Group, London and New York, 2008, hlm. 11
[2] Lihat John Martinussen, Society, State and Market: A Guide to Competing Theories of Development, Zed Books Ltd, London and New York, 2nd impression 1999, hlm. 114-115
[3] Martinussen, Ibid., hlm. 120-121
[4] Lihat Richard Phillips, “Approaching the organisation of economic activity in the age of cross-border alliance capitalism”, in Ronen Palan (ed.), Global Political Economy: Contemporary Theories, Routledge, London and New York, 2000 Op.cit., hlm. 36-38.
[5] Richard Phillips, Ibid., hlm. 39-42 
[6] Catatan kaki dari Phillips menyebutkan bahwa sistem produksi turnkey adalah ketika perusahaan inovasi membuat disain komponen elektronik yang lalu memberikan spesifikasinya kepada manufaktur dagang (merchant manufacturers) yang membeli inventaris komponen melalui kontrak turnkey, seperti membeli hak untuk memproduksi produk  sebelum diproduksi. Hanya ketika produsen telah menyerahkan produk jadinya, maka baru mereka mengganti pembelian awal tersebut. Manufaktur turnkey juga membundel berbagai jasa ekstra bersamaan dengan produk jadinya (seperti tes produk dan dokumentasi, pengiriman dan distribusi, perakitan akhir dan lainnya).  Lihat Phillips, ibid., hlm. 48 dan 52.
[7] UNCTAD, Integrating Developing Countries’ SMEs into Global Value Chain, United Nations, New York and Geneva, 2010, hlm. 9; Alan Rushton and Steve Walker, International Logistics and Supply Chain Outsourcing: From Local to Global, Kogan Page Ltd., London and Philadelphia, 2007, hlm. 1
[8] John Giones, International Trade and Investment: An Asia-Pacific Perspective, McGraw-Hill, Australia, 2003, hlm. 5-8
[9] Taylor, Op.cit, hlm. 11

Kamis, 17 November 2011

PERNYATAAN RAG TENTANG KTT ASEAN

PERNYATAAN RAG
PERCEPATAN DAN PERLUASAN ASEAN KE DALAM
RANTAI PASOKAN GLOBAL
HANYA MENGUNTUNGKAN ELIT ASEAN
Menyambut ASEAN Summit XIX di Bali Indonesia

Penyelenggaraan ASEAN Summit XIX di Bali, Indonesia pada 17-19 November 2011 serta keketuaan Indonesia di ASEAN, nampaknya tidak membawa manfaat berarti buat bangsa Indonesia sendiri. Indonesia hendak menggolkan Bali Concord III dengan judul “ASEAN Nations in Global Community of Nations”. Substansinya adalah semakin mengintegrasikan ASEAN ke dalam proses globalisasi produksi, investasi, jasa, modal dan tenaga trampil dalam rantai pasokan (supply chain) skala global.
Sebagaimana disinggung dalam pidato pembukaan presiden Susilo Bambang Yudhoyono di KTT ASEAN pada tanggal 17 November 2011, maka ASEAN akan semakin memantapkan ASEAN Economic Community (AEC) dengan memperkuat ASEAN Connectivity yang berkoneksi dengan program nasional MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Ini adalah inti dasar dari penyelenggaraan ASEAN Summit kali ini.
Disebut sebagai “Master Plan on ASEAN Connectivity” yang ditetapkan pada Oktober 2010 di Hanoi, akan kembali dikukuhkan dalam Dokumen tentang ASEAN Connectivity pada KTT kali ini. Intinya adalah mengintegrasikan ASEAN ke dalam rantai pasokan global (global supply chain). Sampai saat ini ASEAN sudah mengagendakan pelaksanaan Koridor Ekonomi (KE) di seluruh wilayah ASEAN, yaitu:
  1. Program Kerjasama Ekonomi Sub-Wilayah Mekong Besar (Greater Mekong Sub-region Economic Cooperation Program/GMS-ECP):
(1) Koridor Ekonomi Timur-Barat (East-West Economic Corridor/EWEC);
(2) Koridor Ekonomi Utara-Selatan (North-South Economic Corridor/NSEC); dan
(3) Koridor Ekonomi bagian Selatan (Southern Economic Corridor/SEC), yang kemudian ditambah lagi dengan dua sub-koridor, yaitu: (a) Sub-Koridor Pantai bagian Selatan (Southern Coastal sub-corridor); dan (b) Sub-Koridor Bagian Utara (Northern sub-corridor)
  1. Koridor Ekonomi di Malaysia: 5 KE
  2. Koridor Ekonomi di Indonesia: 6 KE (dibawah MP3EI)
Di dalam koridor ekonomi ASEAN ini, maka prasyarat utama bagi berlangsungnya rantai pasokan adalah dengan membangun infrastruktur-infrastrutkur besar seperti jalan raya, jembatan, jalur kereta api, pelabuhan, bandara dan sebagainya. Ini artinya akan ada berbagai mega-proyek yang luar biaya besarnya di seluruh wilayah ASEAN. Di Indonesia, berbagai proyek infrastruktur MP3EI telah dijajakan di berbagai forum internasional, termasuk forum G-20 dan APEC. Kali ini di ASEAN Summit tempat “menjual” infrastruktur tersebut adalah di ASEAN Business and Investment Summit yang diadakan paralel yaitu tanggal 16-18 November 2011.
Sayangnya proyek-proyek ASEAN Connectivity ini sebenarnya tidaklah berorientasi kepada kebutuhan rakyat ASEAN sendiri. Konektivitas ASEAN berorientasi kepada kebutuhan bisnis dan investasi dalam rangka membangun rantai pasokan bahan mentah dan logistik pasokan tersebut. Seperti diketahui, Asia Timur dan ASEAN telah menjadi basis produksi dari berbagai industri global. Kini juga menjadi “bemper” dari krisis global yang melanda Eropa dan juga AS. Dalam hal ini kepentingan baik AS maupun China adalah sama, yaitu mengamankan produksi dan investasi global agar tidak ikut kolaps dari krisis keuangan dan utang.
Jadi bertolak-belakang dengan slogan ASEAN yang menyatakan “People’s Centered, People’s Oriented, People’s Driven”. Seluruh skema Bali Concord III hanya akan melayani rantai pasokan global agar industri dan investasi kapitalisme global dapat terus berjalan. Di lain pihak, Koridor Ekonomi akan semakin mempercepat dan memperluas eksploitasi kapitalisme global dalam hal bahan-bahan mentah tambang, minyak dan gas, serta berbagai komoditas pertanian,  perkebunan dan perikanan di berbagai negara ASEAN, khususnya Indonesia yang kaya sumberdaya alam. Hal-hal ini sangat jauh dari orientasinya pada rakyat, berpusat pada rakyat maupun didorong oleh rakyat. Malahan rakyat tidak mendapat tempat dalam KTT ASEAN XIX kali ini. Malahan akan terjadi perampasan lahan, monopoli tambang dan lahan perkebunan agribisnis, monopoli rantai perdagangan dan eksploitasi yang menyedot sumber alam rakyat.
Di Indonesia, maka MP3EI hanya akan mengekalkan dan melestarikan posisi Indonesia sebagai pemasok bahan mentah, persis sama dengan posisinya dari sejak jaman kolonial. Sebagai pemasok bahan mentah dan komoditas mentah, maka rakyat Indonesia akan tetap miskin dan tidak pernah mendapatkan nilai tambah. Semua keuntungan hanya dinikmati oleh modal asing dan para kompradornya yang mengambil keuntungan rente dari kekayaan alam Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia tercepat penambahan orang super-kayanya di ASEAN, khususnya kaya karena batu-bara dan sawit. Sementara itu rakyat tidak mendapat apa-apa, lingkungan  menjadi hancur dan sumberdaya alam terkuras habis. Ini adalah bentuk Neo-Kolonialisme.
Kesimpulannya ASEAN Summit kali ini tidak juga membawa kemanfaatan bagi rakyat ASEAN sendiri. ASEAN tetap bersifat elitis, dan bahkan kini hanya akan melayani elit-elit bisnis dari negara-negara mitra dagang utamanya, lewat pembangunan infrastruktur rantai pasokan dan logistik. ASEAN tetap hanya menjadi pemasok bahan mentah dan komoditas mentah saja. Juga semakin dipercepatnya dan diperluasnya proses liberalisasi di seluruh kawasan ASEAN, bahkan hingga ke daerah-daerah pelosok yang belum terjamah modal sebelumnya. Akibatnya ASEAN tidak akan pernah beranjak menjadi kawasan bagi eksploitasi negara-negara besar disekelilingnya, baik di dalam kawasan Asia Timur maupun Asia Pasifik. Bahkan proses-proses berikutnya akan semakin membenamkan ASEAN dalam ketergantungan dan kesenjangan ekonomi yang semakin lebar. Dan ASEAN Summit mengesahkan proses brutal tersebut.
Denpasar, Bali, 18 November 2011
Bonnie Setiawan
Direktur Eksekutif

Resistance and Alternatives to Globalization (RAG)
Kontak: 081315540553, bosetia@gmail.com

Sabtu, 12 November 2011

ASEAN SUMMIT KE-19 MENDORONG PROYEK RANTAI PASOKAN KAPITALISME GLOBAL

ASEAN SUMMIT KE-19 MENDORONG
PROYEK RANTAI PASOKAN KAPITALISME GLOBAL

Apa arti penting dari ASEAN Summit tahun ini yang diketuai Indonesia? Menurut saya, mendorong dan memfokuskan pada pelaksanaan rantai pasokan lewat program konektivitas ASEAN dan pembangunan koridor-koridor ekonomi di seluruh pelosok Negara-negara ASEAN.  

ASEAN terintegrasi penuh dalam Rantai Pasokan Kapitalisme Global
ASEAN sendiri menjadi penting setelah merubah dirinya menjadi sebuah rezim Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community-AEC) sejak 2007 serta mengadakan FTA-FTA bilateral dengan mitra dagang ASEAN. Targetnya adalah menjadi sebuah blok ekonomi yang efektif melalui yang disebutnya “Basis Produksi dan  Pasar Tunggal” (Single Market and Production Base) pada tahun 2015. Didalam AEC ini ada AFTA yang sekarang menjadi ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), AFAS-7 (ASEAN Framework Agreement on Services package-7) dan ACIA (ASEAN Comprehensive Investment Agreement). Di tingkat FTA sudah disepakati: ASEAN-China FTA, ASEAN-Korea FTA, ASEAN-Jepang FTA, ASEAN-Australia/NZ FTA, dan ASEAN-India FTA; serta masih akan diadakan FTA dengan Uni-Eropa, FTA dengan AS, dan FTA dengan EFTA (European Free Trade Area) yang non-Uni-Eropa
Untuk mencapai itu, maka dibuatlah AEC Blueprint yang menyatakan bahwa “A single market for goods (and services) will also facilitate the development of production networks in the region and enhance ASEAN’s capacity to serve as a global production centre or as a part of the global supply chain” (sebuah pasar tunggal bagi barang-barang (dan jasa-jasa) juga akan memfasilitasi pengembangan jaringan produksi di dalam kawasan dan meningkatkan kapasitas ASEAN untuk melayani baik sebagai pusat produksi global maupun sebagai bagian dari rantai pasokan global). Dengan ini resmi ASEAN masuk terintegrasi ke dalam sebuah sistem produksi kapitalisme global baru yang bernama ‘Rantai Pasokan Global’ (Global Supply Chain). ASEAN menjadi pemasok berbagai bahan mentah dan bagian-bagian dari produksi serta mengintegrasikan diri dalam rantai yang panjang dan kompleks dari pasar barang dan jasa global. Inilah arti sebenarnya dari “Single Market and Production Base” tersebut.
Untuk itu pada Oktober 2010 ditetapkan pula sebuah sistem pendukung yang dinamakan “Master Plan on ASEAN Connectivity”. Konektivitas ASEAN ini bertumpu pada konsep baru yang dikenal sebagai ‘Koridor Ekonomi’ (Economic Corridor). Koridor ekonomi merupakan basis bagi pembangunan proyek-proyek infrastruktur (untuk tujuan kelancaran transportasi dan logistik) memakai pembiayaan publik, yang selanjutnya menjadi fasilitas dan prasarana bagi investor di bidang sumberdaya alam dan komoditas pertanian di daerah-daerah baru yang sebelumnya belum terjangkau dan belum dibuka. Koridor-koridor ekonomi telah dikembangkan di bawah Program Kerjasama Ekonomi Sub-Wilayah Mekong Besar  (Greater Mekong Sub-region Economic Cooperation Program/GMS-ECP). Sampai saat ini telah ditetapkan tiga koridor ekonomi yang terdiri dari: (1) Koridor Ekonomi Timur-Barat (East-West Economic Corridor/EWEC); (2) Koridor Ekonomi Utara-Selatan (North-South Economic Corridor/NSEC); dan (3) Koridor Ekonomi bagian Selatan(Southern Economic Corridor/SEC), yang kemudian ditambah lagi dengan dua sub-koridor, yaitu: (a) Sub-Koridor Pantai bagian Selatan (Southern Coastal sub-corridor); dan (b) Sub-Koridor Bagian Utara (Northern sub-corridor).
Apa yang akan terjadi di ASEAN Summit ke-19 ini adalah pengabsahan dari Masterplan, koridor ekonomi dan terutama integrasi ke dalam Rantai Pasokan Global (RPG). RPG adalah sistem baru kapitalisme global yang mengintegrasikan seluruh produksi barang dan jasa dunia ke dalam satu mata rantai yang kompleks yang melibatkan TNCs dan Kontraktor Internasional dengan ratusan jenis subkontraktor dan supplier (pemasok) dari seluruh dunia. Karena itu tidak mengherankan bahwa pada saat yang bersamaan diadakan “ASEAN Business and Investment Summit”, karena memang ASEAN dibuat untuk memfasilitasi kepentingan-kepentingan modal dan bisnis semata, bukan untuk kepentingan rakyatnya. KTT Bisnis dan Investasi ini akan menghubungkan para pejabat tinggi dengan kaum pebisnis global untuk memasarkan dan berinvestasi dalam berbagai mega-proyek infrastruktur. Juga menegaskan dijalankannya perdagangan bebas sepenuhnya dalam rangka memfasilitasi operasi jaringan rantai pasokan dari sejak tingkat global hingga ke pelosok-pelosok ASEAN. Ini sebenarnya fungsi utama dari ASEAN Summit kali ini.
Indonesia sebagai Pemasok Bahan Mentah dan Komoditas
Rantai Pasokan kini diadopsi oleh semua Negara ASEAN dan tentu saja Indonesia. Dan lagi-lagi Indonesia ada di dalamnya hanya sebagai pemasok bahan mentah primer (hasil tambang – migas, mineral dan batu bara - dan komoditas primer). Adopsi tersebut dilakukan oleh pemerintah Indonesia lewat ditetapkannya “Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia” (MP3EI) sejak Mei 2011. Dengan cetak biru tersebut maka ditetapkan enam koridor ekonomi, yaitu (1) Koridor Sumatera; (2) Koridor Jawa; (3) Koridor Bali-Nusa Tenggara; (4) Koridor Kalimantan; (5) Koridor Sulawesi; (6) Koridor Papua-Maluku. Intinya MP3EI ini memposisikan perekonomian Indonesia sebagai pemasok bahan mentah dan komoditas saja dalam sistem rantai pasokan. Hanya Jawa sebagai koridor “pendorong industri dan jasa nasional”. Lima koridor lainnya ditetapkan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil komoditas pertanian, tambang dan enerji.   
Prolog dari proses ini adalah lahirnya orang-orang super-kaya Indonesia yang masuk ke dalam deretan orang kaya dunia. Indonesia tahun ini mencatat pertambahan tercepat orang-orang super-kaya di ASEAN. Dan jualan orang-orang superkaya tersebut adalah tambang (terutama batubara) dan komoditas (terutama minyak sawit). Di lain pihak rakyat yang ada di dalam kawasan tambang serta rakyat peserta kebun sawit tetap miskin dan tertindas, karena dasar pasokan adalah dari biaya buruh/pekerja murah. Belum lagi pengrusakan lingkungan dan ekologis yang dihasilkannya, serta pengambilan tanah rakyat/masyarakat asli. ***

Selasa, 08 November 2011

"ASEAN Community in a Global Capitalism Community of Nations"

ASEAN SUMMIT KE-19 di Bali tanggal 17-19 November 2011:
"ASEAN Community in a Global Capitalism Community of Nations"

Pada tanggal 14-19 November akan diadakan rangkaian ASEAN Summit ke-19 yang diadakan di Bali, Indonesia. Ini KTT kedua kalinya pada tahun ini setelah bulan Mei 2011 diselenggarakan di Jakarta yang sekaligus juga menjadi Ketua ASEAN. ASEAN Summit ke-19 akan diadakan pada tanggal 17 November 2011; lalu ASEAN+3 Summit pada tanggal 18 November 2011, dan terakhir pada tanggal 19 November 2011 akan diadakan East Asia Summit. Ini adalah perhelatan penting karena hampir seluruh negara penting dunia hadir, yaitu China, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, AS, Russia dan 10 negara ASEAN, di tengah-tengah ancaman akan terjadinya krisis global kembali. Termasuk yang hadir adalah presiden AS Barack Obama, presiden Russia Dmitry Medvedev dan Sekjen PBB Ban Ki-Moon. Tema yang diusung oleh Indonesia sebagai ketua ASEAN pada KTT ke-19 ini adalah "ASEAN Community in a Global Community of Nations".
Adapun rincian pertemuan-pertemuan yang mendahuluinya serta berbagai KTT di dalamnya adalah sebagai berikut:
12-14 November 2011
Pertemuan Persiapan tingkat pejabat tinggi (Senior Official Meetings/SOM)
12 November
ASEAN SOM Working Group
13 November
Committee of the Permanent of Representatives
14 November
Senior Official Meeting (SOM)
15-16 November 2011
Pertemuan Persiapan tingkat Menteri
15 November
Pertemuan tingkat Menlu
16 November
ASEAN Political Security Community Council
Preparatory Meeting of ASEAN Economic Ministers Meeting
ASEAN Coordinating Council
ASEAN Supreme Audit Institutions Summit
16-19 November
ASEAN Business and Investment Summit
17 November 2011
KTT ASEAN ke -19
18 November 2011
KTT ASEAN+3

KTT ASEAN-China

KTT ASEAN-Jepang

KTT ASEAN-Korea Selatan

KTT ASEAN-AS
19 November 2011
KTT Asia Timur

KTT ASEAN-PBB

KTT ASEAN-India

Penutupan KTT

Dalam KTT ini ASEAN akan menyepakati dokumen Bali Concord III atau ‘Bali Declaration on the ASEAN Community in a Global Community of Nations’. Dokumen-dokumen lain yang akan diadopsi oleh para kepala negara diantaranya adalah ASEAN+3, ASEAN Community Regional Cooperation, Comprehensive Partnership antara ASEAN dengan PBB, Guiding Principle on East Asia Summit, dan dokumen lainnya untuk ASEAN Connectivity.             

Apa respons kita menghadapi ini? Jangan lupa Barack Obama akan hadir dalam pertemuan launching FTA ASEAN-AS tanggal 18 November. Juga akan hadir dalam Asia Timur Summit tanggal 19 November. Jadi pastinya akan dijaga super ketat. Yang jelas tidak ada perwakilan masyarakat Asia Tenggara disana, tetapi yang jelas ada ASEAN Business and Investment Summit tanggal 16-19 November. Jadi yang diutamakan memang adalah kaum pebisnis dan korporat. Ini sebenarnya sangat terkait dengan rezim baru ASEAN, yaitu AEC (ASEAN Economic Community) yang sepenuhnya dalam kerangka RPG (Rantai Pasokan Global) dalam melayani Kapitalisme Global mutakhir.

Herannya justru yang disebut Civil Society di Asia Tenggara tidak akan mengadakan lagi ACSC/APF (ASEAN Civil Society Conference dan ASEAN People’s Forum) yang seharusnya ada. Ini karena buntut dari kesemrawutan ACSC/APF sebelumnya di Jakarta pada ASEAN Summit ke-18 yang memang dikuasai LSM dan “tokoh-tokoh” LSM yang dekat dengan pemerintah dan yang tidak transparan serta tidak jelas, kecuali melihatnya sebagai proyek. ***

Sabtu, 05 November 2011

LUMPUHNYA RANTAI PASOKAN DAN BAGAIMANA MENGHADAPINYA

LUMPUHNYA RANTAI PASOKAN DAN BAGAIMANA MENGHADAPINYA
Oleh: Bonnie Setiawan

Bencana banjir yang melumpuhkan Thailand hingga saat ini, telah membuat lumpuhnya rantai pasokan industri di Asia Tenggara. Thailand sebagai pemasok komponen dan CBU (completely built-up) otomotif khususnya jenis sedan kini terhambat, dan hal ini mengancam produksi di negara-negara lainnya yang tergantung pada pasokan tersebut. Hal seperti ini seakan mengulang lumpuhnya rantai pasokan dari Jepang, ketika terjadi bencana tsunami tempo hari. Rantai pasokan ternyata sebuah sistem yang ringkih.
Apa itu Rantai Pasokan?
Rantai pasokan (supply chain) adalah sistem industri mutakhir di dunia sekarang ini yang berkembang semenjak pertengahan 1990an. Diklaim sebagai bentuk paling canggih dan paling maju dari sistem produksi kapitalisme. Sistem ini bekerja berdasarkan jalinan rantai yang panjang dan kompleks dari sejak konsep, hingga ke disain, pasokan bahan mentah, produksi, distribusi, hingga sampai ke konsumen. Setiap mata rantainya merupakan pecahan sendiri-sendiri yang dikerjakan oleh para kontraktor dan sub-kontraktor dan juga para pemasok (supplier). Semua mata rantai tersebut terintegrasi secara terpadu menghasilkan berbagai barang dan jasa. 
Alasan utama sistem rantai pasokan bekerja adalah pemotongan biaya secara drastis, sementara dapat menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar dan harga barang yang jauh lebih murah. Kini perusahaan-perusahaan pemimpin atau pemilik merk, seperti Apple atau Nokia atau Toyota dan seluruh industri lainnya, mengalih-dayakan (outsourcing) berbagai pekerjaannya ke ratusan subkontraktor di seluruh dunia. Mereka lalu menutup pabriknya, mem-PHK para pekerjanya di negaranya masing-masing dan hanya menyisakan kantor pusat dan unit inovasinya (R&D khususnya). Semua urusan produksi kini dilakukan oleh para kontraktor internasional (International Contractor/INC) di berbagai Negara, terutama di China dan India serta Negara-negara emerging market lain. Ini merupakan produksi global dalam arti yang paling kongkrit.
Kunci dari sistem rantai pasokan ini adalah pada kemampuan teknologi ICT (teknologi komunikasi dan informasi) dalam mengkoordinasikan, memonitor dan menjaga proses produksi global yang kompleks. Proses produksi global cukup dikoordinasikan di layar monitor oleh kantor pusat maupun para penyedia layanan logistik internasional (3PL atau 4PL). Ini harus ditopang oleh infrastruktur logistic yang handal di lapangan, seperti transportasi darat, laut, udara, serta infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, terminal peti kemas dan lainnya. Dan yang terpenting adalah bebasnya lalu lintas perdagangan antar negara, sehingga rezim perdagangan bebas sebenarnya merupakan prasyarat utama.
Dunia sekarang sudah masuk dalam era rantai pasokan, dan semua produksi barang dan jasa terintegrasi secara penuh di dalamnya. Karena itu ketika terjadi bencana di salah satu negara pemasok penting seperti Jepang atau Thailand, akan segera mengganggu rantai pasokan tersebut dan mengganggu proses produksi di negara-negara lainnya. Industri otomotof misalnya, sekarang sudah menerapkan sistem moduler dalam produksi, sehingga tidak lagi sekedar komponen dan suku cadang. Sistem moduler membuat ketergantungan yang satu dengan yang lain semakin tinggi.
Kelemahan dasar menghadapi Rantai Pasokan
Hampir semua Negara ASEAN sudah terintegrasi ke dalam rantai pasokan, termasuk Indonesia. Apalagi hubungan Jepang dengan Indonesia sangat dekat, mengingat Indonesia adalah pemasok migas utama Jepang dan juga tempat berinvestasi Jepang terbesar kedua setelah di China. Akan tetapi Indonesia sebenarnya adalah mata rantai pemasok terlemah di ASEAN.
Sebab utama adalah karena Indonesia tidak juga mau membangun kemampuan industrinya sendiri. Indonesia masih terlena dan termanjakan sebagai pemasok bahan mentah, baik migas, bahan-bahan mineral ataupun komoditas pertanian. Ini disebabkan oleh ekonomi politik nasional yang masih dikuasai oleh para kapitalis rente, kapitalis birokrat dan kapitalis komprador maupun mafia kebijakan. Sementara pengusaha nasional yang nasionalis dan bersih tidak dapat tempat. Sampai sekarang Indonesia bukan negara industri dan tidak mempersiapkan diri menjadi negara industri. Bahkan Masterplan yang disebut MP3EI itupun memposisikan perekonomian Indonesia sebagai pemasok bahan mentah dan komoditas saja. Hanya Jawa sebagai koridor “pendorong industri dan jasa nasional”. Lima koridor lainnya hanya sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil komoditas pertanian, tambang dan enerji, tanpa kejelasan apa yang dimaksud pengolahan tersebut. Freeport dan Exxon juga bisa diklaim sebagai pengolahan, meski tentu hasilnya disedot ke luar Indonesia.
Demikian pula Indonesia tidak dapat memanfaatkan momentum sistem rantai pasokan untuk membangun industri dalam negerinya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh China dan India. Kedua negara itu telah mempunyai infrastruktur yang siap dalam hal industri dasar dan industri penunjang serta sumberdaya manusia dalam hal pendidikan. Apalagi China yang sedang membangun besar-besaran infrastruktur dasar di bidang transportasi dan logistik. Kedua Negara itu, dan juga Thailand dan Malaysia mempunyai strategi dasar di tengah-tengah ancaman dan juga kesempatan dalam sistem rantai pasokan. Indonesia selalu tidak tahu mau apa dan mau kemana, karena pemerintahnya dan elitnya punya kepentingan-kepentingan koruptif dan manipulatif jangka pendek; tidak punya komitmen dan orientasi jangka panjang. Jangankan masuk ke industri, masalah transportasi saja amburadul. Kisah sehari-hari tentang transportasi publik yang buruk; antrean truk-truk berkilometer panjangnya menuju pelabuhan Merak; kemacetan yang semakin parah di Jakarta; matinya transportasi air dibunuh oleh rezim transportasi darat; jalan antar kota dan provinsi yang hancur-hancuran di luar jawa; dan sederet amburadul lainnya. 
Indonesia sama sekali tidak siap menghadapi semua perkembangan global yang cepat. Selama rezim ekonomi politik sekarang tetap mempertahankan berbagai kepentingan-kepentingan jangka pendeknya, maka jangan harap terjadi perubahan kearah kebaikan.
Indonesia harus belajar banyak dari bagaimana China menghadapi sistem rantai pasokan global. China menghadapi rantai pasokan dengan kekuatan berdikarinya, dan mampu muncul sebagai pemenang dalam kompetisi global. Syarat dasarnya adalah mandiri dan berdikari terlebih dahulu, baru bisa berjaya dalam arena global.***